Tata Rias Pengantin Ibu Dodi Wedding Managemet Melayani Jabodetabek Esia 021 96969007 Flexy 021 32129007 CaLL/SMS PIN BB. 27102992 » Blog Archive » Jangan Panggil Aku MONYET
Koleksi Gallery Kami

Jangan Panggil Aku MONYET

[news] Jangan Panggil Aku MONYET

Sumber : Antara News

Gorontalo (ANTARA News) - Tangan-tangan kecil mengkerut itu menuliskan

sebaris kalimat “nama saya Septiningsih Abdul, cita-cita ingin disayang

semua orang” dengan untaian huruf yang berjejer rapi di secarik kertas.

Boleh jadi Septi, nama akrabnya, memang hanya mencita-citakan satu hal

dalam hidupnya yakni diterima dan dicintai semua orang di sekelilingnya

dengan kondisi tubuh yang serba kekurangan. Rambut lebat nyaris menutupi

sekujur tubuh bocah berusia sepuluh tahun ini.

Tak hanya rambut, yang membuat orang seketika melihatnya mirip primata

karena rahang atas dan bawahnya yang menonjol, hidung pesek berbulu halus,

kelopak mata melebar ke dahi serta telinga yang hampir tak memiliki

lubang.

Awalnya pasti kaget, namun bila sudah berbincang dan menatapnya sekian

lama, pandangan aneh terhadap bocah inipun perlahan akan luntur.

“Pertama kali Septi keluar dari kandungan ibunya, saya sangat terkejut dan

anak itu hampir jatuh dari tangan saya,” ujar Ija, bidan desa yang

membantu persalinan ibu Septi, Fatma Nusi, sepuluh tahun lalu di Desa

Tilangobula, Kecamatan Suwawa Timur, Kabupaten Bone Bolango.

Dengan keanehan yang dimiliknya, tak pelak kehadiran Septi ke dunia

menghebohkan warga setempat, yang kemudian mengkaitkannya dengan kutukan.

Pandangan sebelah mata, cemooh, gunjingan dan bahkan rasa simpati yang

datang dari tetangga pun merupakan hal yang biasa diterima keluarganya.

Bukannya tak pernah putus asa, namun bagi Fatma penyesalan dan air mata

rasanya tak pantas dikucurkan atas kehadiran Septi yang hanya berbeda

fisik dengan manusia ciptaan Tuhan lainnya.

Ucapan Jadi Kenyataan

“Kamu minta buah terus, kayak mengandung bayi monyet saja”. Itu kalimat

yang dilontarkan ayah Septi, Yusni Abdul (35) saat Fatma mengandung putri

keduanya itu.

Kalimat yang diibaratkan sebagai kutukan oleh ayah Septi yang kesal karena

istrinya selalu mengidamkan buah-buahan itu, kemudian diyakini sebagai

penyebab anaknya terlahir dengan wajah layaknya seekor kera.

“Mungkin ucapan itu didengar Tuhan dan akhirnya menjadikannya kenyataan

sebagai cobaan bagi saya dan suami,” ujar Fatma dengan nada sendu,

mengenang rasa pedih saat hamil.

Tiga tahun sejak Septi dilahirkan, Fatma terpaksa membesarkan ketiga

anaknya setelah ditinggal cerai suaminya yang malu karena memiliki anak

dengan fisik yang berbeda dengan anak normal lainnya.

Meski hanya sebagai pembantu rumah tangga, Fatma membesarkan Septi dengan

penuh kasih sayang, tanpa membedakannya dari kedua saudaranya.

Rasa pedih kian menusuk kalbu Fatma, ketika melihat putrinya sejak usia

empat tahun kadang-kadang berjalan merangkak dan tampak lincah seperti

kera.

“Saya sering memarahinya kalau berjalan merangkak. Takutnya akan jadi

kebiasaan dan orang-orang akan yakin dia memang hampir seperti monyet,”

ujar Fatma.

Alhasil, usaha Fatma untuk menghilangkan kebiasaan anaknya itupun

berhasil. Septi kini nyaris tak pernah lagi berjalan merangkak, sehingga

tak ada lagi perilakunya yang dianggap aneh.

Meski memiliki seorang anak yang abnormal dan hidup sebagai orang tua

tunggal, namun tak pernah terpikirkan di benakknya untuk membunuh atau

membuang putrinya itu, seperti yang marak dilakukan oleh orang tua putus

asa belakangan ini.

“Memang berat menjalani semuanya, namun saya yakin Septi hadir dalam

kehidupan saya untuk melihat sebesar apa sabar dan kasih sayang

terhadapnya,” kata Fatma.

Tetap Sekolah

Septi jauh lebih beruntung. Ia tak kehilangan keceriaan pada masa

kanak-kanaknya dan masih mengenyam pendidikan formal dengan hasil banting

tulang ibunya yang juga sebagai buruh cuci keliling.

Kini ia duduk di bangku kelas dua Sekolah Dasar Dumbaya Bulan, yang

berjarak sekitar tiga kilometer dari rumahnya yang terbalut anyaman bambu

itu.

“Septi sempat tinggal kelas waktu di sekolah lama. Ia mengaku tertekan

karena diejek teman-temannya,” kata salah seorang guru Septi, Elvin Adam.

Meski bocah itu tak tergolong juara kelas, namun Septi adalah siswi yang

mandiri dalam mengerjakan tugas serta tes ujian alias anti nyontek.

Bahkan, angka delapan dan sembilan kerap menghiasi raport Septi untuk mata

pelajaran Agama Islam dan olahraga.

“Septi paling suka lomba lari, selalu jadi juara. Kata Pak Guru, kelak

saya bisa jadi atlit hebat dan bisa jalan-jalan ke Jakarta ,” ujar Septi

dengan polosnya.

Di sekolah itu, ia mengaku bisa lebih berbaur dengan semua temannya,

kendatipun pada awalnya juga harus membiasakan diri dengan tatapan aneh

dari orang disekelilingnya.

Anak lincah itu justru menuai perhatian berlebih dari gurunya, karena

dianggap lebih membutuhkan banyak kasih sayang dibanding anak didik lain

yang normal.

Kelainan Genetik?

Tak ada yang tahu kenapa Septi terlahir demikian.

Mungkin sebentar lagi bocah berambut panjang itu akan menjadi obyek

penelitian oleh sejumlah ilmuwan.

Terlebih, Departemen Kesehatan RI menginstruksikan segera membawa Septi ke

Jakarta , untuk diteliti apa yang menjadi penyebab kelainan fisik anak

yang dikenal periang itu.

“Untuk sementara ini, Depkes akan meneliti dulu apakah kelainan ini

disebabkan faktor genetik atau bukan,” kata Kepala Pusat Pemeliharaan

Kesehatan Depkes RI , Cholik Masulili.

Penelitian ini bisa jadi akan menjadi temuan baru dalam ilmu sains,

mengingat kasus seperti yang dialami Septi merupakan yang pertama di

Indonesia .

Tawaran dari Depkes ini pun diterima dengan senang hati oleh Septi dan

keluarganya.

Ibunya memang tak berharap wajah Septi bisa seperti anak normal lainnya,

namun ia punya harapan besar bahwa putri kecilnya itu punya masa depan

yang lebih cerah setelah ditangani sejumlah dokter ahli dan peneliti

nanti.

“Kalau wajah diubah itu rasanya tak mungkin lagi, yang penting rambut di

badannya bisa hilang itu sudah lebih dari cukup,” harap Fatma.

Sementara bagi sang anak, rencana untuk ke Jakarta itu sudah sangat

dinanti, dengan harapan saat balik nanti ia punya segudang cerita buat

teman sepermainannya di desa.

Setidaknya, kata Septi, ia bisa mewujudkan impiannya untuk jalan-jalan ke

Jakarta dan naik pesawat.

Lebih dari itu, hanya satu yang paling diinginkan Septi, “Jangan panggil

saya monyet!” katanya. (*)

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

 

Koleksi Gallery Kami Cathering Paket Pernikahan Download Foto  & Video Shooting Tenda & Dekorasi Tentang kami Pelaminan

corel 2000

corel 2000 serial

cs5 serialz

cs5 serialz free

serial winzip 11

serial winzip 11 key

corel dvd moviefactory 6

corel dvd moviefactory 6 downloads

serial corel draw 11

serial corel draw 11 serials

free corel photoshop download

free corel photoshop download keygen

free winrar download for xp

download winrar for xp for free

winrar 3 download

winrar 3 download freedownload

download winrar free windows 7

download winrar free windows 7 crack

free corel downloads

free corel downloads cracked